Kuria Keuskupan Sanggau
MGR. VALENTINUS SAENG, CP
Uskup Keuskupan Sanggau (Tahbisan Uskup: 11 November 2022)
RD. RICHARDUS RIADI
RD. BARTOLOMEUS TOLO
RD. LEONARDUS KUPIT
RP. JULIUS LINGGA, OFMCap
Vikaris Jenderal
Vikaris Yudisial
Ekonom
Sekretaris
Sejarah Singkat Keuskupan Sanggau
Pada tahun 1925, para murid sekolah katolik di Sejiram (sekarang wilayah Keuskupan Sintang) meminta para misionaris Kapusin (OFM.Cap) untuk membuka stasi (paroki) di sanggau. Permintaan tersebut kemudian dikabulkan, meskipun belum ada pastor yang tinggal dan menetap di pusat stasi Sanggau. Para pastor yang ada sibuk berkeliling mengunjungi orang-orang katolik yang tersebar di kampung-kampung wilayah pedalaman yang luas.
Sejak tahun 1925 hingga masa pendudukan Jepang (sekitar tahun 1942), jumlah umat katolik di stasi Sanggau baru sekitar 1.000 orang. Selama pendudukan Jepang, jumlah ini tidak mengalami peningkatan yang berarti, karena para pastor yang semuanya berasal dari Belanda, dibuang ke kamp interniran di Kuching (Sarawak). Situasi mulai berubah ketika para misionaris kembali dari kamp pembuangan sekitar tahun 1945. Orang Dayak di kampung-kampung meminta pelayanan pendidikan (gedung sekolah) dan gedung gereja. Permintaan masyarakat Dayak untuk mendirikan sekolah ini tidak lepas dengan bangkitnya kepercayaan diri masyarakat Dayak dan munculnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Hal ini muncul sebagai buah dari Kongres Partai Persatuan Dayak (1948) yang dikelola oleh para murid sekolah katolik dan eks-seminaris.
Dengan adanya penambahan tenaga misionaris, selain didirikan sekolah dan gedung gereja (beserta pastoran), dibukalah stasi-stasi (paroki) baru seperti: Sekadau (1950), Jangkang Benua (1951), Pusat Damai (1955), Pakit (1956) dan Batang Tarang (1958). Buah dari pembangunan sekolah, gereja dan pastoran di stasi-stasi tersebut, jumlah umat katolik mengalami peningkatan yang sangat pesat; dari 1.000 orang pada tahun 1942, menjadi 40.887 orang pada tahun 1972.
Melihat luasnya wilayah pelayanan paroki Sanggau (pada waktu itu Sanggau masih berada di wilayah Administrasi Apostolik Pontianak), maka pada tahun 1950, daerah bagian selatan dari paroki Sanggau (Lintang) dilayani oleh pastor Pasionis Belanda. Dan pada tahun 1954, daerah selatan Sanggau secara resmi diserahkan kepada prefektur Apostolik Ketapang. Para misionaris Pasionis Belanda diminta bantuannya untuk melayani umat di paroki Sekadau, Lintang dan Pantok.
Pada masa ini, peranan guru agama sangat vital. Mengingat jumlah pastor yang terbatas, para guru agama diangkat menjadi pemimpin umat dan pemuka jemaat.
Pada tahun 1961, para imam Pasionis Belanda digantikan oleh imam Pasionis dari Italia.
Pada tanggal 9 April 1968, bagian eks-kawedanaan Sekadau dijadikan Prefektur Apostolik Sekadau, terlepas dari Prefektur Apostolik Ketapang dengan jumlah umat waktu itu sekitar 10.000 orang. Oleh keuskupan Agung Pontianak, (saat itu Sanggau masih di bawah Keuskupan Pontianak) “wilayah sebelah kanan mudik sungai Kapuas” diserahkan kepada Prefektur Apostolik Sekadau (stasi Lintang, Sekadau, Pakit; sekarang paroki Sei. Ayak, Pantok; Sekarang Nanga Taman). Sejak saat itu, di setiap kampung diangkat para pengurus kampung yang terdiri dari: Pemimpin agama, wakil pemimpin agama yang mengurus administrasi gereja dan upacara peribadatan umat) dan Pemimpin Umat (yang mengurus adat-istiadat dan hubungan dengan umat lain).
Sejalan dengan perkembangan jumlah umat yang semakin besar dan kesadaran tanggungjawab awam dalam kerasulan, serta luasnya wilayah pelayanan, pada 10 Juli 1982 diumumkan Surat Keputusan (SK) pendirian Keuskupan Sanggau, yang diresmikan pada tanggal 5 Desember 1982. Tanggal inilah yang menjadi tanggal ulang tahun berdirinya Keuskupan Sanggau, yang merupakan gabungan dari eks-prefeltur Apostolik Sekadau dan eks-dekenat Sanggau, terpisah dari Keuskupan Agung Pontianak. Wilayah pelayanan Keuskupan Sanggau pada waktu itu meliputi seluruh Kabupaten Sanggau, dengan jumlah umat sebanyak 106.878 jiwa, yang tersebar dalam 11 paroki. Sebagai gembala pertamanya, diangkatlah Mgr. Hieronimus Bumbun, OFM.Cap, Uskup Agung Pontianak, sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Sanggau.
Pada tanggal 3 Juni 1990, Mgr. Yulius G. Mencuccini, CP ditahbiskan menjadi uskup pertama Keuskupan Sanggau dan menggembalakan keuskupan dengan motto Ministerium Meum in Ministrando (Tugasku adalah dalam melayani [Roma 12:7]). Pada waktu itu (1990), jumlah umat sekitar 151.042 jiwa, tersebar di 13 paroki.
Tanggal 11 November 2022, Mgr. Valentinus Saeng, CP ditahbiskan menjadi uskup kedua Keuskupan Sanggau. Mottonya adalah Bonum Depositum Custodi (Peliharalah Harta yang Indah [2 Timotius 1: 14]). Pada akhir tahun 2021, jumlah umat Katolik di Keuskupan Sanggau ada sekitar 340.347 jiwa, yang menyebar di 25 paroki dan 1 kuasi paroki dalam wilayah Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat.
Dari tulisan Mgr. Valentinus Saeng, CP tentang “Profil Keuskupan Sanggau”.